Monday, January 19, 2015

BELAJAR DARI KEGAGALAN



     Belajar dari kegagalan. Gagal merupakan satu kata yang paling tidak mengenakkan ketika didengar. Mengapa? Bayangkan saja, ketika sudah berbagai usaha kita lakukan dengan begitu jerih payahnya dan ternyata hanya berakhir dengan kegagalan, tentu saja hal tersebut menyakitkan. Namun, sekarang kenyataannya akan penulis balik di sini.
     Setiap manusia pasti pernah mengalami kegagalan. Karena apa? Karena hanya dengan cara menggagalkan kita, kita akan diberikan banyak pelajaran dan kebaikan untuk selanjutnya. Bayangkan saja, jika setiap apa yang kita lakukan lalu berhasil. Apa mungkin ada peningkatan di sana?
      Ibarat sebuah ujian, ketika mau naik ke level yang lebih atas, maka harus diuji dulu, pantas tidak untuk naik level. Begitu juga dengan kegagalan, sebenarnya, kegagalan hanyalah serangkaian kemenangan. Karena ketika kita digagalkan, kemudian kita bangkit, di sanalah akan terdapat kebaikan yang tidak mungkin akan didapatkan tanpa adanya kegagalan terlebih dahulu.
     Belajar dari kegagalan adalah kata yang tepat untuk kita jadikan pedoman. Karena hanya dengan kekuatan mau bangkitlah yang bisa menjadikan kita untuk tetap maju dan meraih kemenangan. Bukan malah terpuruk dan merenungi nasib. Yang terpenting, jangan mudah menyerah. Pintu Tuhan untuk mensukseskan kita banyak sekali. Hanya saja terkadang kita ditunjukkan terlebih dulu pada pintu yang salah untuk menuju pintu yang benar agar kita mempelajarinyaa dari sana.
Keep your spirit!

Saturday, January 17, 2015

LOMBA PENERBIT ARIA MANDIRI 2015

    Sahabat penulis. Saatnya kita tunjukkan taring tulisan kita dalam ajag lonba berikut ini. Lomba yang diadakan oleh penerbit Aria Mandiri.


Lomba Menulis Puisi 
"Saat Hujan Menyapa"
Penerbit Aria Mandiri


Yuk disimak persyaratan event Lomba Menulis Puisi kali ini:
1. Lomba terbuka untuk umum.
2. Penerimaan naskah dibuka dari tanggal 23 Desember 2014 sampai dengan 23 januari 2015 (pukul 24:00 WIB).
3. Membagikan info lomba ini ke minimal 20 teman facebook.
4. Meng-add akun fb Penerbit Aria Mandiri (www.facebook.com/profile.php?id=100008541978889) dan bergabung pada grup Penerbit Aria Mandiri (https://m.facebook.com/groups/312407035632150)
5. Panjang puisi antara 1-2 halaman, sudah termasuk biodata narasi maksimal 60 kata diakhir naskah (narasi, ya! Bukan KTP).
6. Naskah merupakan karya asli penulis dan belum pernah dipublikasikan di media cetak, elektronik/online, dan tidak sedang diikutsertakan dalam event lain.
7. Naskah diketik pada MS.Word 2003/2007 kertas A4, font Time New Roman 12 pt, spasi 1.5 cm, dan batas margin normal.
8. Format puisi, JUDUL PUISI dibawahnya Oleh: nama penulis dan diakhir puisi cantumkan titimangsa
9. Naskah yang telah memenuhi persyaratan di atas, dikirim ke email: fitrianiulma94@gmail.com cc ariamandiri.publisher@gmail.com (tulis subjek email dan nama) PH-Judul-NamaPenulis-Kota Asal.
Contoh: PH-Saat Hujan Menyapa-Fitriani Ulma-Jeneponto.

 Jangan menyepelekan masalah subyek nama file karena untuk mempermudah PJ mendata.
10. Kirim tulisanmu dalam bentuk lampiran. Badan email dibiarkan kosong.
11. Peserta hanya boleh mengirimkan satu karya terbaiknya.
12. Jumlah peserta yang lolos menyesuaikan
13. Baca dengan teliti syarat dan ketentuannya. Jangan sampai menanyakan apa yang sudah tertulis dengan jelas. Hasil lomba akan diumumkan secepatnya.


Hadaiah:
1. Juara 1 mendapatkan voucher penerbitan sebesar Rp. 200.000
2. Juara 2 mendapatkan voucher penerbitan sebesar Rp. 100.000
3. Juara 3 mendapatkan voucher penerbitan sebesar Rp. 50.000
Semua kontributor mendapatkan e-sertifikat dan potongan pembelian buku sebesar 10%

Lomba Menulis Puisi


Salam Literasi!
PJ: Fitriani Ulma

Kontak Penyelenggara:
FB  Penerbit Aria Mandiri

Friday, January 16, 2015

NYAI SOBIR KARYA MUSTOFA BISRI



Ini dia, cerpen karangan mbah Mus yang dibmuat dalam kompas.

Cerpen A Mustofa Bisri (Kompas, 15 April 2012)
     RIBUAN bahkan puluhan ribu pelayat dari berbagai kota yang menangis itu, tampaknya tak seorang pun yang datang berniat menghiburku.
     Mereka semua melayat diri mereka sendiri. Hanya orangtuaku dan beberapa orang famili yang terus menjagaku agar aku tidak pingsan seperti banyak santri yang sama sekali tidak siap ditinggal almarhum.
    Almarhum sejak selesai dimandikan dan dikafani, sudah sepenuhnya milik mereka para pelayat diri sendiri itu. Mereka bawa almarhum ke mesjid yang sudah penuh sesak untuk mereka sembahyangi. Aku setengah sadar mengikuti upacara pelepasan jenazah. Kiai Salman, sahabat almarhum, yang memberi sambutan atas nama keluarga. Lalu beberapa kiai dari berbagai daerah memanjatkan doa; tapi aku tak tahu persis siapa-siapa mereka. Aku hanya asal mengamini.
     Hari berikutnya dan berikutnya, banjir jama’ah laki-laki perempuan tak susut meluapi makam dan mesjid pesantren kami. Alunan tahlil dan doa seolah tak pernah putus dari pagi hingga malam hari. Mereka meratapi kepergian almarhum yang selama ini mereka anggap guru dan bapak. Sandaran mereka.
***
     Kiai Sobir atau yang popular dipanggil Mbah Sobir adalah sesepuh dalam arti yang sebenarnya di wilayah kabupaten kami dan sekitarnya. Di samping mengasuh pesantren dengan ratusan santri laki-laki perempuan, beliau secara de facto juga mengasuh dan melayani ribuan ‘santri kalong’. Mereka yang tidak tinggal menetap di pesantren, tapi selalu datang untuk mengikuti pengajian rutin beliau atau yang sekadar sowan dengan berbagai keperluan. Belum lagi mereka yang datang dari tempat-tempat yang jauh. Bahkan banyak sekali pejabat dari tingkat provinsi dan pusat yang menyempatkan diri sowan kiai sepuh yang sederhana ini.
     Dalam hal menerima tamu, pastilah tak ada yang dapat menandingi Kiai Sobir. Hampir setiap hari dari pagi hingga malam, ndalem [1] beliau tak pernah sepi dari tamu, baik yang datang perorangan atau—kebanyakan—berombongan. Bahkan tidak jarang rombongan tamu datang tengah malam. Dan ‘peraturannya’, setiap tamu yang datang harus makan.
     Ruang tamu ndalem beliau yang sederhana, didominasi oleh dua bale-bale besar dari bambu dialasi tikar pandan. Ada bangku memanjang tempat Mbah Sobir duduk dan—biasanya dengan—kiai atau tamu sepuh yang diajak duduk bersama beliau. Di depannya ada meja kuno yang selalu penuh dengan makanan, dikelilingi beberapa kursi yang tidak seragam. Di atas dua bale-bale besar itulah biasanya santri-santri ndalem dengan sigap mengatur hidangan untuk makan para tamu.
      Kiai Sobir tidak membedakan siapa-siapa yang datang kepada beliau. Siapa pun tamunya, pejabat tinggi atau rakyat jelata; laki-laki atau perempuan; dari kalangan santri atau tidak; beliau terima dengan gembira dan penuh penghormatan. Telinga beliau dengan sabar menampung segala keluhan, curahan hati, bahkan bualan tamu-tamunya yang beragam. Di hadapan beliau, semua orang merasa benar-benar menjadi manusia yang merdeka. Manusia yang dimanusiakan.
     Maka mereka pun tak segan-segan mengutarakan keperluan-keperluan mereka. Mulai dari mengundang ceramah, hingga mengundang untuk peletakan batu pertama pembangunan mesjid atau madrasah. Mulai dari minta doa restu, hingga minta utangan. Dari minta air suwuk [2] untuk anak yang rewel, hingga minta nasihat perkawinan. Dari minta dicarikan jodoh, hingga minta dicarikan mantu. Dari minta arahan menggarap sawah, hingga minta dukungan untuk pilkada. Dari minta fatwa keagamaan, hingga minta bantuan kenaikan pangkat .
     Maka tak heran bila kepergian Kiai Sobir mendapat perhatian yang begitu luas.
***
     Semua perhatian hanya tertuju kepada almarhum bahkan sampai peringatan wafat beliau yang ke-40. Empati hanya tertuju kepada mereka sendiri yang merasa kehilangan Kiai Sobir. Aku terlupakan sama sekali. Aku adalah istri almarhum yang selama ini mereka panggil Nyai Sobir. Perempuan yang kemarin-kemarin juga mereka perhatikan dan hormati bersama almarhum. Perempuan yang mendampingi beliau sejak nyai sepuh wafat hingga akhir hayat beliau.
     Akulah yang selama ini mengatur keperluan-keperluan pribadi abah (begitu aku selalu memanggil beliau) sehari-hari; mulai potong rambut hingga pakaian yang abah kenakan. Akulah yang mengatur jadwal abah; kapan mendatangi undangan-undangan dan kapan mesti istirahat. Akulah juga yang mengatur agar mereka yang sowan tidak ada yang terlantar. Semua harus disuguh makan seperti yang dikehendaki abah.
     Peringatan 40 hari wafat almarhum abah, banjir manusia kembali meluapi kawasan pesantren kami. Setelah itu barulah pengunjung yang berziarah agak menyusut. Aku tidak tahu apakah orang-orang mulai mengingatku sebagai Nyai Sobir pendamping kiai mereka atau tidak; yang jelas aku sendiri teringat saat nyai sepuh, istri abah yang pertama wafat. Teringat beberapa bulan kemudian aku yang kala itu nyantri di pesantren abah dan baru berumur 20 tahun, dipinang abah melalui seorang tokoh masyarakat di desaku.
    Ketika kemudian orangtuaku—yang juga termasuk santri kiai abah—menyampaikan pinangan itu, aku tak bisa berkata apa-apa. Perasaanku campur aduk tidak karuan. Kaget, tidak percaya, bangga, dan entah apa lagi. Tapi karena kedua orangtuaku sepertinya mendukung, aku pun akhirnya ikut saja seperti kerbau dicocok hidung. Walhasil jadilah aku Nyai Sobir. Istri seorang kiai besar yang dihormati tidak hanya di wilayah kota kami saja. Kiai yang bila ada pembesar datang dari ibu kota, tidak pernah terlewatkan dikunjungi dengan segala penghormatan.
     Sebagai pendamping kiai sekaliber abah, aku mempunyai sedikit modal. Di samping berwajah lumayan, aku hafal Al-Quran dan di pesantren bagian puteri, aku menjabat sebagai pengurus inti. Ditambah lagi, berkat latihan setiap malam Selasa di pesantren, aku sedikit bisa berpidato. Maka tidak lama, aku sudah benar-benar bisa menyesuaikan diri. Masyarakat pun tampaknya sudah benar-benar memandangku sebagai nyai yang pantas mendampingi Kiai Sobir. Bahkan sesekali aku diminta panitia mewakili abah mengisi pengajian.
     Dari sisi lain; perasaanku terhadap abah yang semula lebih kepada menghormati, berangsur menjadi menyintai beliau. Apalagi abah begitu baik dan bijaksana sikapnya terhadap diriku yang dari segi umur terpaut sangat jauh. Abah tahu bahwa aku masih muda dengan pikiran dan keinginan-keinginan anak muda. Abah tidak pernah melarangku misalnya melihat televisi atau mendengar lagu-lagu dari radio. Paling-paling beliau hanya mengingatkan supaya aku tidak melupakan tugas-tugas.
     Peringatan 100 hari wafat abah, kemudian 1 tahun, kemudian peringatan haul beliau setiap tahun (sekarang sudah haul yang ke-7), terus ramai dibanjiri ribuan orang dari berbagai penjuru. Aku terlupakan atau tidak oleh mereka. Tapi aku benar-benar terus merasa sendirian.
***
     Abah, apakah di sana abah masih memperhatikanku seperti dulu? Aku kini benar-benar sendirian, abah. Sendirian. Alangkah cepatnya waktu. Alangkah singkatnya kebersamaan kita. Kini tak ada laki-laki yang kuurus sehari-hari. Tidak ada orang yang selalu memperhatikanku, yang menasihati dan memarahiku. Dan persis seperti kata Titik Puspa dalam salah satu tembangnya. Tidak ada lagi tempat bermanja.
     Aku mencoba sebisaku ikut mengurus pesantren tinggalan abah. Alhamdulillah ustadz-ustadz yang gede-gede masih setia mengajar di madrasah dan pesantren kita. Pengurus pesantren juga masih menganggap aku Nyai mereka dan mereka taati seperti saat abah masih hidup.
     Ah, semuanya seperti berjalan biasa-biasa saja, abah. Hanya setiap malam ketika aku sendirian, aku selalu teringat abah. Pedih rasanya tak mempunyai kawan berbincang yang seperti abah; yang setia mendengarkan celotehku meski sepele, yang siap membantu memecahkan masalah yang aku lontarkan. Oh, abah. Kini aku mempunyai masalah besar dan abah tak ada di sampingku.
      Orang mulai memperhatikanku. Tapi tidak seperti perhatian mereka saat abah masih ada. Kini mereka memperhatikanku sebagai janda muda. Baru setahun abah meninggalkan kami, sudah ada saja godaan yang harus aku hadapi. Seorang ustadz yang sudah mempunyai dua orang istri, terang-terangan melamar aku. Lalu seorang duda kaya mengirimkan proposal lamaran, lengkap dengan CV-nya. Belakangan seorang perwira polisi bujangan juga menyampaikan keinginannya yang serius mempersunting aku. Semuanya aku tolak dengan halus.
      Kemudian kedua orangtuaku sendiri dengan hati-hati menanyakan kepadaku apakah aku memang sudah ingin menyudahi status jandaku. Ingin didampingi oleh seorang suami. Namun ketika aku tanya “Kawin dengan siapa?” kedua orangtuaku tidak bisa menjawab. Dan sejak itu mereka tidak pernah menyinggung-nyinggung masalah itu lagi.
      Sungguh, abah, bukan kebutuhan biologi benar yang membuat aku terpicu pertanyaan kedua orangtuaku dan berpikir tentang laki-laki lain untuk menjadi suami setelah abah. Meski tidak aku pungkiri faktor biologi itu ada. Tapi dengan memikul tanggung jawab memelihara pesantren tinggalan abah, aku sungguh memerlukan penopang. Belum banyak ilmu yang sempat aku serap dari abah. Aku perlu pengayom seperti abah dulu. Aku perlu orang dengan siapa aku dapat bertukar pikiran. Syukur dapat memberikan nasihat dan arahan bagi kelangsungan dan perkembangan pesantren kita.
    Dalam pada itu, abah, telingaku yang tersebar di mana-mana, terus mendengar pembicaraan masyarakat. Beberapa tokoh masyarakat diam-diam membicarakan diriku dan pesantren kita. Mereka iba terhadap nasibku dan sekaligus memprihatinkan pesantren. Mereka sadar bahwa aku masih muda dan di sisi lain, pesantren kita butuh kiai laki-laki seperti umumnya pesantren-pesantren yang lain. Mereka, seperti juga aku, terbentur kepada pertanyaan: siapakah kiai laki-laki itu? Kemudian kudengar mereka menyepakati kriteria dan syarat-syarat siapa yang boleh mengawiniku.
      Mereka tidak rela kalau aku dipersunting orang ‘biasa’ yang tidak selevel abah. Mana ada orang yang selevel abah mau mendampingiku? Masya Allah, abah. Apakah karena menjadi jandanya kiai seperti abah, lalu aku hanya dianggap obyek yang tidak berhak menentukan nasib sendiri?
    Setiap malam aku menangis, abah. Menangis sebagai Nyai yang mendapat warisan tanggung jawab. Menangis sebagai perempuan dan janda muda yang kehilangan hak. Tapi aku tetap nyaimu, abah; aku tidak akan menyerah. Aku percaya kepada-Nya. (*)
 .
.
17 Desember 2011
 .
Catatan:
[1] ndalem = sebutan untuk rumah kediaman kiai pesantren
[2] air suwuk = air yang didoa-i

TRIK MENGERJAKAN SKRIPSI

    Skripsi adalah hal yang memomokkan bagi sebagaian mahasiswa semester tua. Itu hal yang wajar, karena memang seakan-akan otak kita terperas olehnya. Tapi mestinya tak sesulit yang dibayangkan, terkadang hanya karena perasaan saking takutnya saja sehingga menjadi seperti itu.
    Well, sekarang, kita simak bagaimana cara mengerjakan skripsi dengan mudah. Tanpa menafikan harus selalu mengerjakan dengan sungguh-sungguh.
     Pertama-tama, persiapkan bahan skripsimu sedini mungkin karena skripsi membutuhkan teori di samping masalah. Lalu, kerjakan pelan-pelan dan pasti. Nah,  silakan bisa dibuka di web berikut ini http://ngomelpedia.blogspot.com/2013/04/tips-dan-trik-cara-cepat-mengerjakan.html, di dalamnya mengupas secara jelas dan detail.

Wednesday, January 14, 2015

IKHLAS



Ketika hendak melakukan sesuatu maka harus dilakukan dengan niat yang tulus dan ikhlas. Sehingga, kita selalu bertanya-tanya, sebenarnya apa sih makna dari ikhlas dan apa saja yang perlu diperhatikan?
Ikhlas berarti memurnikan perkataan, perbuatan, dan perjuangan hanya kepada Allah swt., serta mengharap keridhaan-Nya semata. Semua yang yang dilakukan tanpa  mempedulikan keuntungan materi, pangkat, gelar, popularitas, ataupun ambisi terselubung lainnya. Jadi, suatu perbuatan akan dimaknai ikhlas, ketika seseorang di dalam menjalankannya tidak ada maksud tertentu selain memang hanya karena Allah swt.
Berbicara tentang ikhlas, kita akan digiring pada salah satu ayat dalam Al-Qur’an yang berarti sebagai berikut:
“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (Q. S. Al-Mulk: 2).
Fudhail bi Iyadh menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan ahsanu amala (yang lebih baik amalnya) dalam ayat tersebut adalah yang paling ikhlas dan tulus.
Berlaku ikhlas memang tidak mudah, tapi bukan berarti tidak dapat dilakukan. Karena, tidak ada yang tidak mungkin. Di bawah ini akan dijelaskan beberapa indikator ikhlas agar dapat dijadikan bahan untuk memetakan keikhlasan di hati kita.
Pertama, merasa khawatir terhadap ketenaran dan keharuman nama, terutama bila ia termasuk orang yang berprestasi. Orang seperti ini meyakini bahwa Allah melihat dari hati seseorang, bukan tampilan luarnya.
Kedua, selalu menilai diri kurang maksimal dalam menunaikan hak-hak dan kewajiban dari Allah Swt. hatinya tidak dirasuki oleh perasaan tertipu ataupun bangga diri. Bahkan, ia selalu takut atas kesalahan-kesalahan yang tidak terampuni dan kebaikan-kebaikan yang tidak diterima.
Ketiga, ia akan lebih mencintasi amal perbuatan yang tersembunyi daripada amal yang diperlihatkan kepada orang lain.  Dalam hal ini ada sebuah kisah.
Suatu hari, Umar bin Khattab keluar menuju masjid. Tiba-tiba ia menjumpai Mu’adz bin Jabbal sedang duduk dan menangis di dekat kuburan Rasulullah Saw. Maka, Umar pun bertanya, “Apa yang menyebabkanmu menangis?” Mu’adz menjawab, “Saya menangis karena (ingat) sabda Rasulullah saw., “Sesungguhnya riya’ (beramal karena mencari pujian manusia) sangat kecil termasuk syirik.”
Keempat, saat menjadi pemimpin maupun yang dipimpin, ia tetap produktif dalam beramal selama dalam bingkai perjuangan.
Kelima, tidak menghiraukan keridhaan manusia, apabila di baliknya terdapat kemurkaan Allah.
Keenam, kecintaan dan kebenciaanyya, kemauan dan keengganannya untuk memberi, serta keridhaan dan kemurkaannya hanya karena Allah swt. semata.
Ketujuh, tidak merasa malas, jenuh maupun putus harapan karena panjangnya jalan perjuangan yang harus dilalui atau lamanya mencapai keberhasilan. Baginya, beramal bukan untuk meraih kesuksesan belaka, tetapi untuk medapatkan keridhaan Allah swt., dalam menjalankan perintah-Nya.
Kedelapan, bergembira dengan munculnya orang-orang yang berprestasi di barisan perjuangan. Ia selalu memberikan ruang dan kesempatan seluas-luasnya kepada setiap orang yang erbakat untuk menggantikan posisinya, tanpa sedikit pun menghalang-halanginya. Bahkan, ia akan meninggalkan posisinya dengan senang hati, jika ada orang lain yang lebih baik darinya untuk menempati posisi tersebut.
Sumber: Hawari Aka, Guru yang Berkarakter Kuat, Laksana, Jogjakarta, 2012, hlm. 35-39.